Perayaan Aqidat Tandai Rekonsiliasi Timur Suriah - Berita Sipahutar

Post Top Ad

Perayaan Aqidat Tandai Rekonsiliasi Timur Suriah

Perayaan Aqidat Tandai Rekonsiliasi Timur Suriah

Share This
Momentum yang disebut sebagai pembebasan Jazirah Arab Suriah dirayakan oleh Suku al-Aqidat, khususnya klan al-Shuaitat, dalam sebuah acara besar di Granij, wilayah Suriah timur. Perayaan tersebut digelar atas undangan Sheikh Jasim al-Hadhiri Abu Abdul Aziz dan menjadi ajang konsolidasi sosial antar-suku.

Acara itu dihadiri oleh delegasi resmi pemerintah Suriah, menandakan pengakuan negara terhadap peran penting struktur kesukuan di kawasan timur. Kehadiran perwakilan pemerintah memberi pesan simbolik tentang upaya memperkuat kembali hubungan antara Damaskus dan masyarakat suku.

Selain unsur pemerintah, perayaan ini juga dihadiri tokoh-tokoh besar suku dari berbagai provinsi. Para pemuka adat dan pemimpin kabilah datang dari Daraa, Aleppo, Homs, Hama, Raqqa, Hasakah, Deir Ezzor, hingga wilayah lain di Suriah.

Kehadiran lintas wilayah tersebut mencerminkan luasnya jejaring sosial suku-suku Arab Suriah. Dalam tradisi mereka, acara semacam ini bukan sekadar perayaan, melainkan ruang musyawarah dan penyatuan sikap di tengah perubahan politik dan keamanan.

Suku al-Aqidat sendiri dikenal sebagai salah satu konfederasi suku Arab terbesar di Suriah timur. Pengaruh mereka meluas di sepanjang Sungai Eufrat dan memiliki peran historis dalam dinamika politik, keamanan, dan sosial di kawasan tersebut.

Dalam struktur negara Suriah, keberadaan suku-suku Arab tidak pernah sepenuhnya terpisah dari pemerintahan. Banyak tokoh suku yang secara tradisional memiliki posisi representatif di dalam institusi negara.

Perwakilan suku dapat ditemukan sebagai penasihat Presiden Suriah, pejabat di kementerian, hingga aktor penting dalam otoritas lokal. Peran ini berfungsi sebagai jembatan antara negara dan masyarakat akar rumput.

Model representasi tersebut menjadi salah satu mekanisme Damaskus dalam menjaga stabilitas di wilayah yang secara geografis luas dan secara sosial sangat beragam. Suku dipandang sebagai mitra politik dan sosial yang tidak dapat diabaikan.

Namun, posisi suku-suku Arab di Suriah timur tidak sepenuhnya seragam. Di tengah konflik panjang, sebagian suku memilih mendukung pemerintah Suriah, sementara sebagian lainnya berada di pihak SDF atau mengambil posisi netral.

Perbedaan sikap ini seringkali tidak bersifat ideologis semata. Faktor keamanan lokal, kepentingan ekonomi, serta dinamika internal suku turut memengaruhi pilihan politik masing-masing komunitas.

Dalam satu konfederasi suku pun, tidak jarang ditemukan perbedaan orientasi antara satu klan dengan klan lainnya. Hal ini mencerminkan kompleksitas struktur kesukuan Arab di Suriah.

Perayaan di Granij dipandang sebagai sinyal upaya rekonsiliasi dan penegasan kembali peran suku dalam tatanan negara. Acara semacam ini sering dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan kesetiaan, sekaligus aspirasi kepada pemerintah pusat.

Para tokoh suku menilai bahwa stabilitas Suriah timur tidak bisa dicapai hanya dengan pendekatan militer. Keterlibatan sosial dan pengakuan terhadap struktur adat dinilai sebagai kunci utama.

Selain itu, suku-suku Arab di kawasan ini memiliki karakter lintas batas negara. Persebaran mereka tidak hanya terbatas di Suriah, tetapi juga meluas ke Yordania, Irak, Turkiye, dan negara-negara lain di kawasan.

Suku al-Aqidat, misalnya, memiliki cabang besar di Irak dan komunitas yang tersebar hingga wilayah Teluk. Jaringan lintas negara ini membuat isu kesukuan seringkali berdimensi regional.

Karakter transnasional tersebut membuat setiap perubahan politik di Suriah timur berpotensi berdampak ke kawasan sekitarnya. Karena itu, posisi suku sering menjadi perhatian negara-negara tetangga.

Bagi pemerintah Suriah, merangkul suku berarti menjaga stabilitas internal sekaligus menutup celah intervensi eksternal. Hubungan yang harmonis dengan tokoh suku dinilai dapat memperkuat kedaulatan negara.

Perayaan di Granij juga menjadi panggung solidaritas antar-suku Arab dari berbagai wilayah. Di tengah fragmentasi konflik, acara semacam ini memunculkan kembali identitas kolektif yang melampaui batas administratif.

Pesan yang mengemuka adalah penolakan terhadap perpecahan sosial dan seruan untuk menjaga persatuan Suriah. Nilai-nilai adat digunakan sebagai bahasa pemersatu di tengah ketegangan politik.

Dengan latar konflik yang belum sepenuhnya usai, peran suku-suku Arab tetap menjadi faktor penentu masa depan Suriah timur. Perayaan al-Aqidat ini menjadi penanda bahwa jalur sosial dan adat masih menjadi pilar penting dalam proses stabilisasi negara.

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad

Pages