Kesenjangan di Timur Laut Suriah era SDF - Berita Sipahutar

Post Top Ad

Kesenjangan di Timur Laut Suriah era SDF

Kesenjangan di Timur Laut Suriah era SDF

Share This

Konflik berkepanjangan telah mengubah wajah Suriah timur laut secara drastis, terutama di Provinsi Al-Hasakah yang selama bertahun-tahun berada di luar kendali penuh negara. Kerusakan fisik memang kentara, tetapi luka sosial dan ekonomi yang ditinggalkan jauh lebih dalam.

Di banyak kota dan desa, infrastruktur dasar seperti jalan, listrik, dan air bersih berada dalam kondisi memprihatinkan. Akses transportasi terganggu, distribusi barang tersendat, dan kehidupan sehari-hari warga berjalan dalam keterbatasan.

Seiring kembalinya otoritas negara Suriah ke wilayah ini, muncul harapan baru di kalangan masyarakat yang telah lama hidup dalam ketidakpastian. Namun harapan itu juga dibarengi evaluasi kritis terhadap masa lalu, khususnya pengalaman warga selama wilayah ini dikelola oleh struktur yang dipimpin SDF.

Sebagian warga Arab secara terbuka menyuarakan perasaan didiskriminasi selama bertahun-tahun. Mereka menilai kebijakan pembangunan cenderung berpihak pada wilayah-wilayah yang didominasi komunitas Kurdi, sementara kawasan Arab tertinggal.

Di banyak distrik Arab, kondisi jalan praktis tidak pernah diperbaiki secara layak. Aspal berlubang menjadi pemandangan sehari-hari, menghambat mobilitas warga dan aktivitas ekonomi lokal.

Masalah listrik menjadi keluhan paling umum. Pasokan tidak menentu, pemadaman sering terjadi, dan jaringan distribusi jarang mendapat perawatan memadai di wilayah Arab.

Sebaliknya, di beberapa kawasan Kurdi, proyek pembangunan terlihat lebih konsisten. Perbaikan jalan, fasilitas umum, dan layanan dasar dinilai berjalan lebih cepat dan teratur, memperkuat kesan adanya perlakuan tidak seimbang.

Kesenjangan ini berdampak langsung pada kehidupan sosial. Rasa ketidakadilan menumpuk dan perlahan memicu ketegangan antarkomunitas di wilayah yang sejatinya multietnis.

Di sektor layanan publik, banyak warga Arab merasa akses mereka terhadap fasilitas kesehatan dan pendidikan tidak sebaik wilayah lain. Klinik kekurangan tenaga medis, sekolah kekurangan fasilitas, dan dukungan administratif minim.

Pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi Al-Hasakah juga ikut terpukul. Lahan-lahan di daerah Arab banyak yang terbengkalai, irigasi rusak, dan dukungan produksi hampir tidak ada selama bertahun-tahun.

Akibatnya, tingkat kemiskinan meningkat dan ketahanan pangan melemah. Banyak keluarga terpaksa bergantung pada bantuan sementara atau pekerjaan informal yang tidak stabil.

Kembalinya otoritas negara Suriah usai SDF hengkang dipandang sebagai peluang untuk memperbaiki ketimpangan tersebut. Warga berharap pendekatan pembangunan yang lebih inklusif dan merata dapat diterapkan.

Langkah awal pemerintah Suriah di bawah Presiden Ahmed Al Sharaa difokuskan pada pemulihan infrastruktur dasar, termasuk pembersihan puing, perbaikan jalan utama, dan normalisasi layanan listrik dan air.

Selain fisik, tantangan terbesar adalah memulihkan kepercayaan. Hubungan antar komunitas yang sempat tegang memerlukan rekonsiliasi sosial yang nyata, bukan sekadar perubahan administratif.

Keamanan juga menjadi perhatian utama. Warga menginginkan jaminan stabilitas agar aktivitas ekonomi dan sosial dapat berjalan tanpa rasa takut.

Pembersihan ranjau dan sisa bahan peledak menjadi prasyarat penting untuk pemulihan, terutama di area pertanian dan permukiman yang terdampak konflik.

Tanda-tanda kebangkitan ekonomi mulai terlihat dari kembali beroperasinya pasar dan usaha kecil. Meski masih terbatas, geliat ini memberi sinyal awal pemulihan.

Di bidang pendidikan, pembukaan kembali sekolah dan pengakuan sistem nasional diharapkan memberi masa depan yang lebih pasti bagi generasi muda Al-Hasakah.

Banyak warga Arab berharap era baru ini mengakhiri praktik diskriminatif dan menjamin perlakuan setara bagi semua komunitas, tanpa memandang etnis atau afiliasi politik.

Keberhasilan pemulihan Al-Hasakah akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan negara dan keterlibatan masyarakat lokal secara luas.

Di tengah reruntuhan konflik bertahun-tahun, kembalinya otoritas negara membuka peluang untuk menyembuhkan luka lama, sekaligus menjadi ujian apakah Suriah mampu membangun kembali timur lautnya dengan keadilan dan inklusivitas.

Tidak ada komentar:

Post Bottom Ad

Pages